Banyak sekali generasi muda Indonesia yang merasa diri berbakat, ganteng atau cantik, berambisi untuk menjadi seorang artis film atau sinetron. Mereka terpukau dengan glamouritasartist agency” atau mencari tahu di mana alamat rumah produksi atau kantor perusahaan film. Tidak sedikit pula yang kecewa, karena sudah sekian tahun mengejar kesempatan itu, tak kunjung juga menjadi bintang film. Namun tidak sedikit pula yang menghalalkan segala cara demi mewujudkan mimpi, yang terkadang sangat memilukan untuk didengar, seperti menjual diri atau mengeluarkan tak sedikit uang untuk mendapatkan peran bahkan sering pula menjadi korban para makelar artis. dan kemilau bintang, dengan gampang mendapatkan popularitas dan uang banyak. Mereka berlomba-lomba mencari kesempatan untuk masuk “
Memang ada satu dua pemain yang yang langsung melejit ke permukaan, karena bermodalkan cantik dan ganteng atau kebetulan ketemu dengan sutradara/produser, karena ybs menang dalam sebuah lomba yang tidak ada kaitan dengan seni akting atau bahkan hanya ketemu sedang mejeng di sebuah mal. Suatu kenyataan yang tak bisa dibantah, banyak artis karbitan seperti itu tidak bertahan lama di dunia film. Ibarat laron, mereka dengan tak sabar mengejar cahaya dan kemudian mati sia-sia. Mereka adalah generasi karbit yang buru-buru ingin sukses dan tak mau mengasah, belajar dan bersusah sedikit dulu, sebelum masuk kekancah film yang tak kalah tantangan dan lebat hutan belantaranya dari bidang profesi lain.
Maka sebagai sebuah profesi yang lebih dari sekedar hobi, aktor/aktris film juga membutuhkan ilmu. Orang yang telah mempersiapkan dirinya, sebelum terjun ke dunia film, biasanya orang itu akan langgeng, sukses dan dihormati oleh masyarakat dalam masa yang panjang. Kita tahu, aktor/aktris sekaliber Deddy Mizwar, El Manik, Slamet Rahardjo, Christine Hakim, Merriem Bellina, Tamara Blezinsky, Agnes Monica, Deddy Soetomo, Yenny Rachman, Didi Petet, Mathias Muchus, Eeng Saptahadi, Rahman Yacob, Jeremias Nyangoen, dll adalah pemain film yang “tak lapuk di hujan dan tak lekang di panas.” Sudah puluhan tahun di dunia gemerlap tsb, tetap bercahaya, memikat dan memukau bila nongol di layar perak atau layar kaca.
Makanya. AKSINEAS, sebuah manajemen artis pertama Indonesia dengan system koperasi, sangat menganjurkan bagi calon dan anggotanya untuk menyiapkan diri sebelum terjun ke dunia film/sinetron. Dengan mengenal dasar-dasar akting dan persiapan dasar menjadi aktor/aktris film, diharapkan anggota AKSINEAS tidak seperti rusa masuk kampung, bila di ajak mengikuti casting dan mendapat kesempatan bermain film atau berhadapan dengan kamera.
Berbeda dengan sistem dan sillabus sekolah akting yang ada selama ini, dalam program PENDIDIKAN KILAT (DIKLAT) Akting Film AKSINEAS, diterapkan teori dan praktek dengan sistem singkat, dalam waktu 33 jam dan 66 jam, sebagai ilmu dasar akting sebelum terjun ke lokasi shooting. Dewan pengajar terdiri dari sutradara aktif dan aktor yang berpengelaman puluhan tahun di dunia film/sinetron. Dengan demikian, suasana ajar mengajar, seperti suasana “casting” dimana para sutradara bertatapan langsung dan memberikan ilmu kepada calon pemain. Di sinilah kelebihan Diklat Akting AKSINEAS. Sistem belajar di AKSINEAS terdiri dari 3 pilihan waktu belajar, masing-masing :
KELAS DIKLAT/BASIC
Adalah kelas akting dengan system belajar tiap hari selama 39 jam, 13 kali pertemuan dan selesai dalam 21 hari belajar. Proses belajar diadakan tiap hari, pukul 16.00 s/d pukul 19.30 WIB, Hari Minggu Pkl.10.00 s/d 16.30 WIB. Biaya pendidikan Rp. 2 juta.
KELAS EXECUTIVE
Adalah kelas akting dengan system belajar tiap hari Minggu/Libur saja, pukul 10.00 s/d 16.30 WIB, selama 33 jam pelajaran, 11 kali pertemuan dan selesai dalam 6 Minggu. Biaya pendidikan Rp. 2 juta.
KELAS REGULER/INTERMEDIATE
Adalah kelas rutin yang dibuka bagi yang lebih serius dan ingin lebih dalam mengenal seni akting dengan system belajar tiga kali dalam seminggu saja, pukul 15.00 s/d 18.00 WIB, selama 66 jam pelajaran, 22 kali pertemuan dan selesai dalam 2 bulan. Proses belajar dalam kelas intermediate ini, Biaya pendidikan Rp. 3 juta + uang praktek Rp. 250.000,-
Dewan Pengajar terdiri dari 15 sutradara aktif,aktor, sineas kawakan yang semuanya berpengalaman puluhan tahun dan banyak yang berlatar pendidikan formal di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang dedikasi dan profesionalitas tidak diragukan lagi, masing-masing:
DEWAN PENGAJAR AKSINEAS ACTING & FILM SCHOOL
- NURHADIE IRAWAN (Sutradara)
- ACA HASANUDDIN MT. (Sutradara)
- JEREMIAS NYANGOEN (Aktor senior & Penulis Skenario)
- IRWAN SIREGAR (Sutradara)
- VIKTOR HERMANTO (Sutradara)
- KARDY SYAID (Sutradara, Produser & Penulis Skenario)
- JANAIM RACHMAT ( Sutradara & Film Acting Coach)
- R. MONO WANGSA (Sutradara)
- SURYA LAWU SAPUTRA (Sutradara)
- SOFIAN JOEL (Sutradara/Aktor)